KARMA...

          Pak Mujib melangkahkan kaki tak tentu arah sambil meng hisap rokok kretek di tangannya. Rambutnya yang mulai memutih, melambangkan usianya yang mulai menua. Wajahnya begitu muram merasakan beban bain yang di alaminya. Ia teringat pada kata-kata anak perempuannya. Anak satu-satunya, harapannya, pewarisnya, serta yang bakal mengangkat dereajatnya sebagai orang tua.  
          Suatu ketika ketika pak Mujib bersana Misnah. ‘’Misnah….. sudah 3 tahun kamu Kuliah, dengan biaya yang tidak cukup sedikit. Apalagi kamu mempunyai wajah yang tidak mengecewakan.          
‘’kenapa pak?’’ apakah bapak tidak percaya kepada Misnah?’’                             
Bapak percaya, tapi bapak hanya sekedar menginginkanmu untuk lebih berhati-hati’’.
‘’seharusnya bapak percaya pada Misnah, karena Misnah bukan anak kecil lagi. Anak muda jaman sekarang berbeda dengan anak muda jaman dulu? Misnah tak ingin hidup tanpa teman pergaulan’’. Kata Misnah sambil menyisir rambutnya yang hitam dan panjang itu.                            ‘
’bergaul ya bergaul, tapi kan harus tau batas.ingat,… kau adalah wanita. Kau harus tahu, di mana kamu seharusnya kamu meletakkan kedudukan yang sesuai dengan Kodratmu, apalagi kamu sudah memiliki Pengetahuan yang cukup luas, dan sekarang sudah Kuliah. Tentunya kamu harus tau sampai di mana batas-batas pergaulan tersebut’’.                                                                     
‘’batas-batas yang gimana lagi pak, saya kira di Zaman sekarang sudah umum pergaulan antara laki-laki dan perempuan, nonton film bersama, rekreasi bersama, itu kan soal biasa.                                 ‘’Misnah…..!!!’’ bentak pak Mujo.                                                                      ‘’saya curiga, kenapa kau begitu kuat membela kebiasaan-kebiasaan buruk seperti itu? Jangan-jangan sesuatu telah terjadi pada dirimu’’.                                                                                    
‘’apa maksud bapak? Saya kan sudah besar, berpendidikan, masalah dosa itu kan tanggung jawab saya. Mengapa bapak ikut campur? Jawab misnah. Misnah bangkit dari tempat duduknya melangkah cepat menuju kamar tidur. Di tutupnya pintu kamar keras-keras.                                           
Pak Mujib menggeleng-gelengkan kepala, panas dan sesak rasanya melihat kelakuan anaknya yang semakin hari, semakin menjadi-jadi. Apalagi sejak di tinggal mati istrinya 2 tahun yang lalu.                      Suatu hari datanglah parempuan tua tergopoh-gopoh menemui pak Mujib. Bibirnya yang gemetar dan suaranya yang tersendat-sendat mengatakan, ‘’Anu den, Misnah…..Mmmisnah!!!’’                     
‘’kenapa Mbok Jah?’’ katakanlah Mbok Jah apa yang telah terjadi?’’…                                            ‘
’anu Den… tadi malam, Mis…nah minta di gugurkan!                                
‘’di gugurkan gimana?’’ jangan bilang kalau Misnah hamil???’’               ’ya Den, kira-kira sudah 3 bulan’’.                                                            ‘’ASTAGFIRULLAaaaaaH……’’ucap pak Mujib. Bagai tersambar petir rasa yangh menghunjam jiwanya. ‘’Misnah anakku!!! Ternyata kekhawatian bapak selama ini benar. Pantas kau telah kehilangan sopan santunmu terhadap bapak. ‘’ohh….. betapa malangnya aku sebagai orang tua. Kini tercorenglah wajahku dengan tertanamnya janin yang ada dalam perut misnah.                                                     
 Wajah pak Mujib memerah, jantungnya berdegup keras, tubuhnya gemetar. Pandangan matanya menatap benda tajam yang terletak di atas lemari kaca. Di peganglah benda tajam itu dengan gemetar. Pelan-pelan pak Mujib melangkah mendekati pintu kamar anaknya. Langkahnya semakin mendekat, terlihat olehnya tubuh seorang gadis mendengkur memeluk guling. Seketika itu pak Mujib sadar bahwa yang di hadapannya adalah anak kandungnya sendiri.                                                        
‘’oh… bagaimanapun dia adalah anakku, darah dagingku sendiri. Bagaimana mungkin aku tega membunuhnya…?’’ ketika itu pula hatinya mulai terdengar ada bisikan kata; ‘’apakah benar bahwa dirimu merasa paling benar dari anakmu??.....                                                      
‘’pak Mujib merenung dan mulai berfikir: ‘’adakah hikmah yang terkandung dalam peristiwa memalukan ini?’’ ….. Tanpa sadar pak Mujib ingat kepada dirinya sendiri. Hatinya mendesah dan berkata: ‘’oh….. istriku sakit karena memikirkan aku hingga akhirnya dia meninggal.                                    
‘’Betapa laknatnya aku ……!!! Sebidang tanah telah ku jual tanpa sepengetahuan istriku , aku berfoya-foya, bermain perempuan dan aku tidak kuasa menahan nafsu. ‘’Ohhh ya Allah…..! betapa besar dosaku?, kenapa baru kali ini hatiku mulai terbuka???’’. Ya Allaaahh… memang pantas aku menerima hukuman seperti ini…….’’.

0 komentar:

Posting Komentar