‘’SITI’’


Ketika matahari mulai menampakkan cahayanya, burung-burungpun beterbangan kesana-kemari seakan menyambut datangnya sang Mentari. Demikian juga dengan  manusia-manusia yang mulai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
‘’sitiiiii….. mana seragam sekolahku?’’,teriak Rini memanggil pembantunya. Sitipun lari sambil tergesa-gesa dan mengatakan: ‘’Eee…anu, baju Non belum saya setrika, soalnya saya baru mencucinya kemarin.
‘’Ah, kamu memang malas!! Pokoknya baju saya baru di setrika dulu’’ bentak Rini.
‘’Non Rin…Non Rin, mengapa kamu tdak pernah baik sama saya, apakah karena saya orang tak punya dan pembantu?’’ kata hati siti sambil meratapi nasibnya.
‘’huh….. rasakan akibatnya anak sombong. Di luar rumah kau di senangi, tapi di rumah kau harus tunduk padaku.’’ Cetus Rini dalam hati.
Sudah 3 tahun Siti jadi pembantu di rumah Rini. Di samping jadi pembantu, Siti di beri kesempatan oleh bapak dan ibunya Rini. Usia Siti lebih mudah dari Rini. Di sekolah Siti di kenal anak yang baik, pandai, rajin dan senag berkawan, sehingga dia di senangi guru-gurunya. Sedangkan di rumah bapak dan ibu Rini juga senang terhadap siti, karena cara kerjanya baik dan rajin. Semuanya membuat Rini iri kepada Siti. Dia benci terhadap pembantunya. Karena Siti sering menjadi perhatian teman-temannya. Tidak hanya itu saja, bapak dan ibunya sering memberi nasehat, supaya mencontoh siSiti. Tapi Rini tak pernah menghiraukan nasehat itu.
Siang hari, ketika Rini duduk di teras rumah, ada tukang pos mengantarkan surat. Rinipun langsung menghampiri Siti di belakang. ‘’Siti ada surat untukmu, orang tuamu pasti minta kiriman uang lagi, ini cepatt…..’’ kata Rini sambil melemparkan surat itu. Siti terkejut dan tak percaya dengan berita yang ada di surat itu. ‘’SEGERA PULANG BAPAK MENINGGAL’’ demikian isi surat itu. Tak terasa air matanya membasahi pipinya. Dengan menangis Siti memberikan  surat itu kepada ibunya Rini sambil mengatakan: saya menerima surat ini dari desa bu!!!’’ ibu Rini terkejut setelah membaca surat itu.
‘’kalau begitu kamu harus pulang, sudah Siti….. jangan di tangisi yang sudah meninggal, ikhlaskan ayahmu Siti. Sekarang siapkan barang-barangmu, ibumu pasti menunggu. Sitipun menangis dengan keadaan menangis. Rini merasa kasihan kepada Siti.
‘‘Siti maafkan kata-kataku tadi,” kata Rini pada Siti.
“Oh, tidak apa-apa non Rin,”kata Siti yang masih menangis sambil memasukkan baju-bajunya ke dalam tas.
            “aku ikut bela sungkawa……ya Ti”.
“terimakasih ya non Rin”,…….
            “nanti setelah selesai semua, kamu kembali ke sini lagi ya ti, ajak ibumu biar membantu di rumah ini dan kamu meneruskan sekolahmu.” Kata ibu Rini sabar.
            “maafkan kesalahanku ya Ti?..... permintaan Rini sekali lagi sebelum pulang ke desa. Rini merasa menyesal. Siti sekarang menjadi anak yatim tanpa ayah yang di cintainya.

0 komentar:

Posting Komentar