DI SANGKA BISU


Kereta berjalan di atas rel-rel stasiun wonokromo. Ida masih tercengang. Disandarkannya kepalanya pada jendela kereta api yang terus melaju. Mencari kerja di Surabaya, inilah yang menjadi keputusan hatinya. Seorang penumpang mencolek lengan Ida.
Surabaya mbak……….”. Idapun segera bangun, mengambil tas besarnya, meraih jaket dan mengangkat kardus yang berisi mangga muda. Kemudian dia bergegas turun. Begitu sampai di luar, dia member uang recehan kepada pengemis cilik. Ida sendiri jalan kaki.
Kira-kira sudah hamper setengah jam Ida berjalan, tapi jalan Rungkut masih belum ia temukan. Dia merasa letih, dan haus mulai menggodanya. Idapun berhenti sebentar di dekat warung nasi. Ida menelan ludahnya yang kental. Dicarinya uang receh untuk membeli segelas es strup, tapi recehan itu tidak ada. Dia baru ingat kalau uangnya baru ia berikan kepada pengemis cilik.
Tanpa sadar Ida tertunduk lemas di salah satu bangku panjang di warung itu.   Tukang becak di sebelahnya melirik dan berkata: “becak mbak?”, kalau boleh tahu, mbak mau kemana?”. Ida pura-pura tidak mendengarnya.Dia mengangkat kardus dan tas besarnya, dan segera pergi dari warung itu. Ketika itu tukang becak tersebut segera memutar becaknya, kemudian mengejar Ida.
“Gratiiiis…….mbaaak!!. Namun Ida telah jauh meninggalkannya.
Malam harinya, tukang becak itu berbagi perasaan kepada sahabatnya, penjual nasi goring.
“Sudahlah Run, itu aja yang kamu omongin”, kata sahabatnya.
“Tapi kali ini benar cak, aku berani sumpah!”, gadis yang aku temui tadi siang betul-betul seorang gadis kembang……….”, kata Harun tidak mau kalah.
“Ya udah….lah Run, kalau kamu suka gadis itu, pacari saja dia…”, katanya memberi saran.
“Aku gak mau kalau masih pacaran, aku mau kawin saja, cak……!
“ya…, kawin tentu saja. Tapi dekati dulu dia, senangkan dulu hatinya. Jaman sekarang mana ada perempuan yang mau langsung diajak kawin…?!. Tapi ya udah lah Run, besok kau ku antar melamar dia”,
“Jangan besok cak, aku belum punya uang”.
“Makanya, Run, pacari dia dulu sambil mengumpulkan uang….”
“Tapi gak apa-apa lah cak, besok aku ketemu dia”. Akan kutanya dia, apakah dia mau jadi istriku 6 bulan lagi”, jawab Harun yakin.
“Ha..ha..ha..” sahabatnyapun tertawa sambil memegangi perutnya. “Yah…terserah kamulah Run, aku mau jualan dulu”.
Keesokan harinya, Harunpun menemui Ida di tempat kerjanya dan mengatakan:
“Mbak, ini saya mbak.., Mbak masih ingat saya kan?. Ida bingung, dia pun hendak meninggalkan Harun, namun Harun meraih tangannya dan berkata, “mbak, maukah jadi istri saya?, tapi tidak sekarang, 6 bulan lagi. Mau ya…?. Ida hendak menamparnya, namun dia tidak tega. Tanpa sadar dia berkata: “Tha…..tha…..thu…….tha…”. “Apa mbak?”, Tanya Harun kebingungan. Tiba-tiba sahabatnya berteriak dari kejauhan. “Bisu dia, cak!”. Seketika itu Harun buru-buru memutar becaknya dan mengayuhnya cepat-cepat. Idapun cengang dan terperangah. 

0 komentar:

Posting Komentar